[68] Apakah Benda Bernajis Dapat Menajiskan

Tinggalkan komentar

Imam Shadiq ditanya tentang seseorang yang kencing sedang ia tidak mempunyai air, lalu ia mengusapkan zakarnya ke dinding. Beliau berkata, “Segala sesuatu yang kering tidak menajiskan.” Beliau juga ditanya tentang orang yang medapatkan tikus di dalam bejananya, sedang ia telah berkali-kali berwudu, mandi, dan mencuci pakaiannya dari air bejana tersebut, sedang tikus itu terkelupas kulitnya. Beliau berkata, “Jika ia melihatnya berada di dalam bejana tersebut sebelum mandi, berwudu, atau mencuci pakaian, kemudian ia mengerjakan itu semua, maka ia harus mencuci pakaiannya dan mencuci semua yang terkena air tersebut, serta harus mengulangi wudu dan salatnya.”

Para ahli fiqih sepakat bahwa benda najis adalah menajiskan. Tetapi mereka berbeda pendapat mengenai benda bernajis: apakah ia menajiskan atau tidak.

Arti dari “najis itu menajiskan” ialah, kalau terjadi persentuhan antara yang suci, seperti badan Anda, dengan benda najis, seperti anjing, dan salah satunya basah, lalu basah tersebut berpindah dari anjing ke badan, maka badan tersebut menjadi najis dengan kesepatan ulama. Akan tetapi, jika keduanya kering, sehingga tidak ada basah yang berpindah dari yang najis ke yang suci, maka badan tersebut tetap suci dengan kesepakatan ulama juga.

Sedangkan arti dari pertanyaan “apakah benda bernajis itu menajiskan atau tidak” ialah, jika misalnya suatu benda terkena najis, yang berarti menjadi benda bernajis, lalu benda tersebut mengenai benda suci lain yang basah, apakah benda kedua ini ikut menjadi benda bernajis pula ataukah tetap suci. Dengan kata lain, benda suci, jika terkena najis secara langsung, menjadi benda bernajis; jika terkena melalui perantara, aakah ia menjadi benda bernajis juga?

Dalam hal ini, para ahli fiqih terbagi dalam tida pendapat:

  1. Benda bernajis adalah menajiskan. Dalilnya ialah riwayat Imam Shadiq di atas yang mengatakan, “Ia harus mencuci semua yang terkena air tersebut dan harus mengulangi wudu serta salatnya.”
  2. Tidak menajiskan. Sayid Khu’i mengatakan dalam at-Tanqih, juz 2, “Hilli dan kawan-kawannya berpendapat bahwa benda bernajis tidak menajiskan. Tampaknya hal ini dapat diterima oleh semua ulama zaman itu. Adapun ulama mutakadim, mereka tidak menyinggung masalah ini sama sekali, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berfatwa bahwa ini menajiskan, padahal ini merupakan problema sepanjang hari. Dengan demikian, bagaimana mungkin dinisbahkan adanya ijmak bahwa benda bernajis itu menajiskan?” Kemudian Sayid Khu’i berkata bahwa Agha Ridha Isfahani mengatakan, “Hukum bahwa ia menajiskan adalah hal baru yang dibuat kaum khalaf. Sedangkan kaum salah, tidak seorang pun mengatakannya.
  3. Tidak ada komentar dan tidak ada fatwa, apakah ia menajiskan atau tidak. Kami pun ikut diam seperti mereka, kendari selalu menghindari benda-benda bernajis dan selalu membersihkan benda-benda basah yang dikenainya, didorong oleh kebiasaan dan pendidikan yang diperoleh.

[68] Membersihkan Masjid

Tinggalkan komentar

Diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Jauhkan masjid-masjidmu dari najis.” Para ahli fiqih sepakat bahwa orang yang melihat najis di masjid, wajib kifayah atasnya untuk menghilangkannya. Begitu juga, ia wajib menghilangkannya dari Mushaf (Al-Qur’an), sampul atau kertasnya, karena membiarkannya merupakan perkosaan terhadap kehormatan Allah.

[68] Pakaian yang Tidak Menyempurnakan Salat

Tinggalkan komentar

Imam Shadiq berkata bahwa semua yang melekat pada seseorang atau yang ada padanya, yang tidak boleh (tidak sempurna) salat bila hanya memakainya (tanpa yang lain), jadi tidak apa-apa dibawa dalam salat, sekalipun mendandung kotoran, seperti songkok, sandal, dan sebagainya. Karena itu, para ulama sepakat bahwa segala sesuatu yang tidak mungkin menutupi aurat dapat dibawa dalam salat, sekalipun najis. Salatnya sendiri dianggap sah. Tetapi dengan syarat ia bukan bagian dari bangkai dan bukan pula dari zatnya yang najis, seperti anjing dan babi.

[67] Yang Dimaafkan dalam Salat

Tinggalkan komentar

Imam Shadiqa ditanya tentang orang yang borokan yang terus berdarah. Bagaimana ia salah? Beliau menjawab, “Tetap saja ia salah kendati darahnya terus mengalir.” Beliau juga mengatakan, “Tidak apa-apa seseorang salat memakai pakaian berdarah selagi darah itu belum sebesar dirham.” Karena itu, para ahli fiqih sepakat bahwa darah karena luka atau bisul-bisul yang bertebaran di badan, baik darah itu berada di pakaian atau di badan, baik ia sedikit atau banyak, dengan syarat luka tersebut masih ada dan belum sembuh, dapat dibawa dalam salat. Begitu juga nanah yang bernajis karena darah, dan percikan darah penyakit ambeien. Mereka juga sepakat dalam membolehkan darah yang besar keseluruhannya tidak melebihi simpul ibu jari bagian atas, meskipun tidak ada luka atau borok di badan, tetapi dengan syarat bukan darah haid, istihadah, dan nifas, bukan dari yang zatnya najis, seperti babi, anjing, dan bangkai, adan bukan darah binatang yang tidak boleh dimakan dagingnya. Juga dengan syarat tidak ada pakaian lain kecuali yang terkena darah itu.

[66] Benda Najis dan Benda Bernajis

Tinggalkan komentar

Imam Shadiq ditanya tentang luka. Apa yang harus dilakukan oleh orang yang terkena luka? Beliau berkata, “Mencuci sekitar luka tersebut.” Beliau juga ditanya tentang orang yang kencing di tempat yang tidak ada air, lalu ia mengusap zakarnya dengan batu, sedangkan zakar dan pahanya telah berkeringat. Beliau berkata, “Ia harus mencuci zakar dan pahanya.”

Imam Musa Kazhim ditanya tentang orang yang berjalan di kotorannya yang kering lalu mengenai pakaian dan kakinya. Apakah ia boleh masuk ke masjid, lalu salat tanpa mencuci pakaian dan kakinya yang terkena kotoran itu? Beliau berkata, “Kalau kering, tidak apa-apa.” Dan masih banyak riwayat lain.

Benda najis ialah benda yang eksistensinya atau zatnya najis, sehingga tidak mungkin dihilangkan, seperti anjing, babi, air seni, dan darah. Karena itulah dikatakan, Sesuatu yang memang karena zatnya tidak dapat berubah.“

Benda bernajis ialah benda suci yang terkena najis, seperti tangan yang terkena darah atau kencing.

Para ahli fiqih sepakat bahwa benda suci, jika terkena najis, menjadi benda bernajis. Mereka juga sepakat bahwa makan dan minum benda najis dan benda bernajis adalah haram, serta wajib hukumnya menyucikan pakaian dan badan dari najis ketika salat atau tawaf wajib.

[66] Shahibul Yad

Tinggalkan komentar

Jika shahibul yad, seperti istri dan pembantu, memberi tahu bahwa ini najis, apakah kata-katanya dapat dipakai? Jawabannya: Ya. Dalilnya adalah fakta sejarah (sirah) para ahli fiqih dan ketetapan para ahli (bina’ al-’uqala’).

[65] Khabar Wahid

Tinggalkan komentar

Fukaha sepakat bahwa berita yang disampaikan oleh satu orang terpercaya (tsiqah) dapat dipergunakan dalam menetapkan hukum. Karena itu, jika diriwayatkan dari Imam Maksum bahwa itu halal dan itu haram, maka itu merupakan dalil yang sah. Fukaha juga sepakat bahwa dalam hal terdapat perselisihan dan pertentangan, yang benar tidak dapat ditetapkan berdasarkan perkataan satu orang. Namun, mereka berbeda pendapat: apakah objek sesuatu dapat ditetapkan berdasarkan perkataan satu orang dalam hal tidak terdapat perselisihan, ataukah tidak? Misalnya ada yang berkata bahwa ini najis, dan tidak ada seorang pun yang menentangnya, apakah itu dapat dijadikan dalil? Mayoritas ulama berpendapat bahwa berita dari satu orang (khabar wahid) tidak dapat dijadikan pegangan dalam menetapkan obyek sesuatu, sekalipun tidak ada perselisihan. Akan tetap, menurut Syaikh Hamadani dalam kitabnya al-Mishbah, pendapat yang lebih kuat adalah boleh berpegang pada khabar wahid dalam persoalan ini, dengan alasan adanya ketetapan para ahli, juga ketetapan syariat yang membolehkan berpedang pada azan satu orang tsiqah dalam hal masuknya waktu salat.

Yang benar adalah, berita dari satu orang tak dapat dipergunakan dalam menetapkan obyek sesuatu, kecuali jika menyebabkan kemantapan jiwa. Dengan demikian, yang menjadi sandaran adalah kemantapan jiwa.

[65] Cara Menetapkan Najis

Tinggalkan komentar

Imam Shadiq berkata, “Segala sesuatu halal bagimu sampai kamu tahu bahwa itu benar-benar haram—maka kamu harus tinggalkan. Misalnya, baju yang kamu beli, mungkin saja itu hasil curian; atau wanita yang menjadi istrimu, bisa jadi ia saudara kandungmu atau saudari susumu. Segala sesuatu begitu adanya sampai jelas bagimu yang selainnya atau terdapat bukti.”

Untuk menetapkan kesucian, tidak perlu ada dalil; adanya keraguan tentang kenajisan sudah cukup untuk menghukum sesuatu itu suci. Dan ini tergolong hal dimana yang lemah mengalahkan yang kuat. Jika Anda menduga 90% najis dan 10% suci, maka yang 10% mengalahkan yang 90%.

Adapun najis tidaklah dapat diterapkan kecuali dengan dalil, seperti fakta, istishhab, atau bukti syar’i, persis seperti persoalan-persoalan lain yang telah disebutkan Imam Shadiq, “Segala sesuatu begitulah adanya sampai jelas bagimu yang selainnya atau terdapat bukti,” yakni, sampai nyata bagimu yang sebaliknya atau diberi kesaksian oleh dua orang saksi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.